Sabtu, 10 Juni 2017

TEORI STRUKTURALISME GENETIK

ANALISIS CERPEN “JANGAN KE ISTANA, ANAKKU” MENGGUNAKAN TEORI STRUKTURALISME GENETIK

Dosen pengampu: Dr. M. Shoim Anwar
Mata Kuliah: Teori Sastra





Oleh:
Zahrotul Widad (165200046)
PBSI/2016-B



PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA
SURABAYA
2017









LANDASAN TEORI
Strukturalisme genetik

Strukturalisme genetic dikembangkan atas dasar penolakan terhadap analisis strukturalisme murni, analisis terhadap unsur-unsur intrinsik. Baik strukturalisme genetik atau dinamik juga menolak peranan bahasa sastra sebagai bahasa yang khas, bahasa sastra. Strukturalisme genetik ditemukan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Perancis. Strukturalisme genetik memiliki impllikasi yang lebih luas dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu-ilmu kemanusiaan pada umumnya. 
Pandangan dunia merupakan masalah pokok dalam strukturalisme genetik. Homologi, kelas-kelas sosial, strukturalisme bermakna, dan subjek transindividual diarahkan pada totalitas pemahaman yang dianggap sebagai kesimpulan suatu penelitian. Secara metodologis, dalam strukturalisme genetik Goldmann menyarankan untuk menganalisis karya sastra yang besar, bahkan suprakarya. Secara definitive strukturalisme genetik harus menjelaskan struktur dan asal-usul struktur itu sendiri, dengan memperhatikan relevansi konsep homologi, kelas sosial, subjek transindividual, dan pandangan dunia.




PEMBAHASAN

1.      Struktur Cerpen
Tokoh manusia yang diteliti di dalam cerpen meliputi: Tokoh “Aku”, Dewi, istri Aku (Trihayu), Baginda, Permaisuri, putri Raja, Abdi istana, Ibunda Baginda, penjaga istana.
Lingkungan alam: lingkungan istana dan gubuk (rumah) tempat anak “aku” tinggal.
Lingkungan sosial: golongan atas (kerajaan), keluarga tempat tinggal anak dari tokoh“Aku” dibesarkan.
Lingkungan kultural: tanah kerajaan, pedesaan.

2.      Pandangan Dunia Pengarang
Pengarang mengekspresikan pandangan dunianya di dalam cerpen Jangan ke Istana, Anakku, mewakili seorang tokoh. Cerpen ini menggambarkan pandangan dunia pengarang yang tertindas, tidak berdaya, dan hidup dalam tekanan. Tokoh “Aku” sebagai seseorang dari kelas sosial bawah yang tidak dapat bertindak untuk menyelamatkan dirinya atau keluarganya dari kekuasaan para penghuni istana.

“Siapa pun bisa merasakan perihnya. Ketika istriku hamil muda, istana menjatuhkan telunjuknya. Aku diwajibkan menjadi penjaga. Istriku menangis karena harus dipisah. Kami sama-sama tak berdaya.” (Anwar. 2017:55)

“Trihayu, istriku tercinta, lenyap ditelan istana. Bertahun-tahun taka da yang tahu kelebatnya.” (Anwar. 2017:57)

“Anakku dibawa masuk keruang istana. Berjalan mendekati teras, …. Mengapa aku, istriku, dan anak kesayanganku, semuanya diganyang oleh istana…” (Anwar. 2017:60)
Kalimat tersebut mengandung konsep pandangan dunia. Di dalamnya terkandung pandangan penulis yang mewakili sosok “aku” yang hidup dalam tekanan kerajaan dan seluruh anggota keluarganya pun lenyap di dalam istana, ia dijadikan penjaga dan istri serta anaknya lenyap di dalam istana. Penulis menyampaikan apa yang dirasakan tokoh aku yang sebenarnya sangat menderita selama hidupnya karena orang-orang yang dicintainya telah direnggut darinya begitupula dengan hak-haknya untuk hidup dengan bebas. Ia tidak bisa melawan, karena jika melawan maka nyawa taruhannya.

3.      Struktur Sosial
Struktur sosial merupakan bagian dari analisis selain struktur cerpen dan pandangan dunia. Berdarkan isi dari dari cerpen “Jangan ke Istana, Anakku” terdapat struktur sosial. Di dalam beberapa kegiatan yang dilakukan tokoh ada kegiatan sosial, pelakunya orang banyak yang tercakup pada satu komunitas tertentu. Hal ini mengacu pada Sujek Kolektif yang berarti para tokoh merupakan anggota pada kumpulan atau komunitas yang diceritakan dalam cerpen.
Contoh pada kutipan di bawah ini :
“… baginda dan permaisuri mendengarkan kicauannya di teras, sambil menyeruput kopi dengan aroma dupa dari ruang sesaji. Para penjaga bersiap waspada di tiap pojok istana. Sesekali putri kecilnya muncul juga ke teras, dibelai halus oleh baginda. Tapi sang abdi, dengan sikap membungkuk-bungkuk kayak kura-kura, segera mengajak kembali ke taman keputrian.” (Anwar. 2017:54)
“keluarga istana memang berkuasa tanpa batas. Tempat-tempat penting telah dimilikinya dengan berbagai cara. Harta dan nyawa, bumi dan air, dan seluruh kekayaan di dalamnya tak ubahnya milik istana. Penduduk yang menolak pasti akan raib diganyang para begundal.” (Anwar. 2017:55)

Kutipan kalimat diatas menunjukan struktur sosial, karena menggambarkan sebuah kumpulan orang-orang dari ras yang berbeda, yaitu ras atas (keluarga kerajaan) yang sudah dikenal dan memiliki kekuasaan dan ras bawah (penduduk desa). Dimana para keluarga kerajaan (keluarga istana) memiliki kekuasaan penuh terhadap desa tempat kekuasaannya. Para penduduk dirampas hak-nya, kebebasan, dan juga kebahagiaan mereka telah direnggut. Mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan karena jika melawan maka nyawa mereka akan lenyap.



Berdasarkan isi dari Cerpen “Jangan ke Istana, Anakku” karya M. Shoim Anwar dapat diambil pemahaman dari pembahasan diatas yaitu :
Dari struktur cerpen, pandangan dunia pengarang, dan struktur sosial,  dapat diambil pemahaman bahwa tokoh “Aku” digambarkan oleh pengarang sebagai seorang yang benar-benar tertindas, seseorang yang tidak dapat melakukan perlawanan atas perlakuan para petinggi istana terhadap seluruh anggota keluarganya. Kebahagiaan yang menjadi hak nya telah direnggut oleh keluarga istana. Bukan hanya tokoh “aku” yang mengalami penindasan, para penduduk desa wilayah kekuasaan istana pun juga tak luput dari para petinggi istana, para penduduk desa juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami tokoh aku.




DAFTAR PUSTAKA


Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan:
Pustaka Ilalang.

Kutha Ratna, Nyoman. 2013. Teori, Metode, Dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.



TEORI POSTKOLONIAL

ANALISIS CERPEN TAHI LALAT DI DADA ISTRI PAK LURAH KARYA M. SHOIM ANWAR MENGGUNAKAN TEORI POSTKOLONIAL






Oleh:
Zahrotul Widad (165200046)
Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas PGRI Adi Buana
Surabaya

PENDAHULUAN
Postkolonial merupakan sebuah wacana yang sangat menarik dan menantang. Melalui teks masyarakat postkolonial mampu mengekspresikan dan menemukan sarana resistensinya yang tajam. Menurut Foulcher dan Day (2008:4) postkolonial adalah salah satu kritik sastra yang mengkaji atau menyelidiki karya sastra tentang tanda-tanda atau pengaruh kolonial. Unsur-unsur postkolonial dapat ditemukan dalam karya satra seperti cerpen, puisi, novel dan drama.
Teori postkolonial dimanfaatkan untuk menganalisis khasanah kultural yang menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi di negara-negara pascakolonial. Salah satu negara yang merupakan pascakolonial adalah Indonesia. Berdasarkan pemahaman tersebut, sesungguhnya kritik postkolonial adalah suatu jaringan sastra atas rekam jejak kolonialisme. Apabila ditelusuri dengan cermat, tentu banyak karya sastra Indonesia modern yang merekam jejak kolonialisme bangsa Barat dan Asia Timur Raya sepanjang sejarahnya. Atas dasar kenyataan sejarah bahwa Indonesia pernah menjadi bagian dari kolonialisme atau bangsa yang terjajah hingga ratusan tahun dan banyaknya karya sastra yang merekam jejak penjajahan, tentu sastra Indonesia modern menjadi gudang penelaahan postkolinialisme.
Masalah bahasa berkaitan dengan pengaruh bahasa kolonial terhadap bahasa terjajah, cara pengungkapan postkolonilitas dalam teks sastra Indonesia, dan cara yang digunakan oleh para penulis bekas jajahan dalam mendekolonisasi (kesadaran kebangsaan) bahasa penjajahan besar. Sementara itu, masalah identitas berkaitan dengan masalah hibriditas, yakni masalah jati diri bangsa yang berubah karena adanya pengaruh budaya dari bangsa kolonial.
Kekuasaan kolonial Belanda membawa dampak terhadap perkembangan kesusasteraan di Hindia-Belanda hingga masa periode awal kemerdekaan Indonesia. Kolonial sendiri memiliki keterkaitan dengan sifat jajahan. Kolonialisme merupakan momen historis yang melatarbelakangi suatu bangsa. Kolonialisme telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan dan kebudayaan masyarakat jajahan. Bisa berupa pemaksaan bahasa, perbudakan, peniruan dan penggantian budaya dan pemindahan penduduk. Berkaitan dengan kolonialisme, poskolonialisme mengacu pada praktik-praktik yang berkaitan dengan ‘hirarki sosial, struktur kekuasaan dan wacana kolonialisme’ Gilbert dan Tompkins (dalam Allen, 2004:207). Munculnya poskolonialisme menjadi wacana intelektual utama, lebih utamanya di negara-negara bekas jajahan.
Teori postkolonial digunakan sebagai strategi pembacaan yang dapat diharapkan mampu mengungkapkan pemaknaan baru. Metode struktural yang digunakan untuk menarik benang merah terhadap unsur-unsur struktur cerpen Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah karya M. Shoim Anwar. Sumber data analisis diperoleh dari tuturan tokoh dan paparan dalam cerpen tersebut yang menunjukkan relasi kuasa, subaltern, ambivalensi, ambiguitas, dan diaspora.



PEMBAHASAN
Secara umum postkolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Dalam pengertian yang lebih luas, postkolonial juga mengacu pada objek sebelum dan pada saat terjadinya kolonialisme. Oleh sebab itu, Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya, Postkolonialisme Indonesia Relevansi Sastra (2008:81—82) mengemukakan lima pokok pengertian postkolonial, yaitu (1) menaruh perhatian untuk menganalisis era kolonial, (2) memiliki kaitan erat dengan nasionalisme, (3) memperjuangkan narasi kecil, menggalang kekuatan dari bawah, sekaligus belajar dari masa lampau untuk menuju masa depan, (4) membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan bukan semata-mata dalam bentuk fisik, melainkan juga psikis, dan (5) bukan semata-mata teori, melainkan kesadaran bahwa banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan, seperti memerangi imperalisme, orientalisme, rasialisme, dan berbagai bentuk hegemoni lainnya.
Dalam kaitannya dengan kritik sastra, postkolonial dipahami sebagai suatu kajian tentang bagaimana sastra mengungkapkan jejak perjumpaan kolonial, yaitu konfrontasi antarras, antarbangsa, dan antarbudaya dalam kondisi hubungan kekuasaan tidak setara, yang telah membentuk sebagian yang signifikan dari pengalaman manusia sejak awal zaman imperialisme Eropa (Day dan Foulcher, 2008:2—3). Jadi, menurut Day dan Foulcher, kritik postkolonial adalah strategi membaca sastra yang mempertimbangkan kolonialisme dan dampaknya dalam teks sastra, posisi, atau suara pengamat berkaitan dengan isu tersebut.
Seperti pada novel tahi lalat di dada istri pak lurah, dimana ada konfrontasi antarras antara pa lurah dengan rakyatnya,
“…meski taka da waktu tanpa rasan-rasan alias bergunjing, kami memilih diam ketika ada Pak Lurah lewat.” (Anwar, 2017:15)

“Penduduk serba khawatir. Setelah berulang kali dipanggil Pak Lurah ke kantor, mereka terpaksa melepaskan tanahnya karena batas-batas di sekitarnya sudah dimiliki pihak pengembang perumahan.” (Anwar, 2017:17)
Kutipan tersebut mengungkapkan bahwa perbedaan jabatan ataupun kedudukan dalam suatu wilayah menjadikan seseorang menjadi sombong bahkan juga merasa berkuasa dan menyalahgunakan kekuasaan tersebut.

Relasi Kuasa
Fanon menyatakan bahwa melalui dikotomi kolonial, penjajah-terjajah, wacana oriental telah melahirkan alienasi dan marginalisasi psikologis yang sangat dahsyat (dalam Ratna, 2007:206). Pendapat tersebut diperjelas Ratna bahwa kekuasaan tidak terbentuk secara struktural, melainkan mengalir melalui masyarakat secara kapiler, kekuasaan bukan karena menguasai segala-galanya, melainkan karena berasal dari mana-mana (2007:210).
Pendapat Fanon marginalisasi psikologis dikotomi kolonial telah didukung oleh pendapat Piliang bahwa terdapat permainan gender-meskipun berlangsung di dalam dunia virtual-bukannya tidak memberikan efek psikologis di dunia nyata (2010:300). Hal tersebut telah terjadi pada cerpen Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah. Terdapat relasi kuasa pada cerpen tersebut. Pertama, antara tokoh janda Pak Sarmin dengan Pak Lurah. Kedua, antara Pak Lurah dengan warga desa. Ketiga antara Istri Pak Lurah dengan warga desa. Beberapa relasi kuasa tersebut nampaknya telah mempengaruhi psikologis tokoh yang merasakan bahwa dirinya terjajah. Ada yang bergerak untuk melawan bentuk penjajahan tersebut, namun ada pula yang diam saja dan tinggal di tempat sebagai pihak terjajah, karena alasan ketidakberdayaan. Ketiga relasi kuasa tersebut dapat dengan sendirinya muncul dengan beberapa penjelasan dan kutipan di bawah ini

“Penduduk serba khawatir. Setelah berulang kali dipanggil Pak Lurah ke kantor, mereka terpaksa melepaskan tanahnya karena batas-batas di sekitarnya sudah dimiliki pihak pengembang perumahan. Tanah mereka memang bisa terkurung kalau tidak segera dijual. Mereka makin tidak punya daya tawar. Kadang-kadang pihak pengembang perumahan malah langsung menimbun tanah penduduk yang belum terbeli sehingga batas-batasnya menjadi hilang. Yang terakhir ini telah menimpa sawah milik janda Pak Sarmin. Cara yang menjijikkan.” (Anwar, 2017:17)
“… tanah desa yang sering dipakai sepak bola para pemuda kabarnya sudah ditancapi patok-patok oleh pengembang perumahan. Memang tanah itu belum berbentuk lapangan, tapi tanah kosong di tepi persawahan yang sudah lama diketahui sebagai kas desa itu bukanlah milik pribadi. Sasat itu juga aku, Bakrul, Paiman, dan beberapa orang meluncur membuktikan kebenaran berita itu. Dan benarlah adanya. Tanah kosong itu sudah ditancapi kayu-kayu warna merah sebagai pembatas. Tanpa berpikir panjang, kami mencabuti kayu-kayu itu. Warga yang lain ikut berdatangan dan berjanji akan mempertahankan tanah itu sebagai fasilitas umum. Secara sepontan warga memasang sepanduk di lokasi dengan tulisan ”Ini tanah kas desa. Milik semua warga. Kami akan mempertahankannya.”” (Anwar, 2017:19)

“…Meski taka da waktu tanpa rasan-rasan alias bergunjing, kami memilih diamnketika ada Pak Lurah lewat. Ini berbeda ketika yang lewat adalah istrinya. Orang-orang berdehem, pura-pura batuk ketika ada istri Pak Lurah lewat…. Tapi, di belakang dari arah istri Pak Lurah, orang-orang itu memberi isyarat gerakan membuat  gelembung di dadanya…” (Anwar, 2017:15)

… memang, Pak Lurah dan istrinya bisa serba salah. Apa pun yang dikatakan dijamin tidak dapat menyakinkan tanpa bukti fisik. Sungguh tidak mungkin istri pak lurah diminta membuka dadanya untuk membuktikan ada tahi lalatnya atau tidak,” (Anwar, 2017:20)

Dari kutipan cerpen diatas, terlihat bahwa terdapat relasi kuasa antar tokoh. Ada yang melakukan perlawaan, namun ada pula yang hanya diam tak melakukan perlawanan, entah karena tidak berdaya atau memang ingin menutupi kebenaran yang ada.

Subaltern
Masyarakat Subaltern merupakan masyarakat yang tidak berdaya karena tekanan atau masyarakat yang terkucilkan. Dalam cerpen tahi lalat di dada istri pak lurah ini terdapat masyarakat subaltern, dimana mereka merasa tertekan atas apa yang dilakukan oleh pak lurah.

“…Selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah ladangnya dan berganti dengan perumahan mewah. Warga yang tanahnya berada di tempat strategis, melalui Pak Bayan atau sekretaris desa, dirayu untuk menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal…” (Anwar,2017:16)

“ ”Kalau tidak mau menjual akan dipagari oleh pihak pengembang perumahan,” begitulah kata-kata intimidasi yang dilontarkan Pak Bayan kepada penduduk.” (Anwar, 2017:17)

“Penduduk serba khawatir. Setelah berulang kali dipanggil Pak Lurah ke kantor, mereka terpaksa melepaskan tanahnya karena batas-batas di sekitarnya sudah dimiliki pihak pengembang perumahan. Tanah mereka memang bisa terkurung kalau tidak segera dijual. Mereka makin tidak punya daya tawar. Kadang-kadang pihak pengembang perumahan malah langsung menimbun tanah penduduk yang belum terbeli sehingga batas-batasnya menjadi hilang. Yang terakhir ini telah menimpa sawah milik janda Pak Sarmin. Cara yang menjijikkan.” (Anwar, 2017:17)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tak hanya janda Pak Sarmin saja yang menjadi pihak yang terjajah peranannya, melainkan juga warga desa lain.

Ambivalensi dan Ambiguitas
Ashcroft menyatakan bahwa ambivalensi diadaptasi dari teori wacana diskursus kolonial Homi Bhabha yang mendeskripsikan kompleksitas perpaduan antara penerimaan dan penolakan yang mencirikan hubungan antara penjajah dan terjajah. Relasi yang ambivalen muncul disebabkan oleh perilaku subjek kolonial yang bukan hanya dan secara lengkap menentang kolonial. Subjek kolonial di satu sisi menerima kekuasaan tetapi di sisi lain mereka melawan (dalam Yasa, 2012: 230).
Konsep ambivalensi dalam Tahi Lalat di dada istri Pak Lurah terdapat pada beberapa tokoh. Pertama, tokoh Aku yang awalnya tidak memilih Pak Lurah saat pencoblosan. Di sisi lain, setelah hal tersebut terjadi, Aku menerima bahwa yang tidak ia pilih saat ini telah menjadi Lurah ditempatnya jadi si “Aku” harus menerimanya. Di sinilah letak pengaruh psikologis yang dialami tokoh Aku. Hanafi mendapatkan penjajahan dari Pak Lurah, di sisi lain ia merasa ada pihak lain yang patut untuk dijajah yaitu istri Pak Lurah. Istri Pak lurah dirasa tokoh “Aku” sebagai tokoh yang tidak mempunyai kekuatan untuk melawan sama sekali, karena tuduhan yang telah dilontarkan dan dibicarakan oleh banyak orang di wilayah desa bahkan sampai keluar desa. Sehingga tokoh “Aku” dan juga warga lain yang tidak suka dengan Pak Lurah dapat bersikap menjajah istri Pak Lurah sebagai tindakan perlawanan atas penjajahan yang dilakukan terhadap dirinya dan Warga.
Disamping Ambivalensi terdapat pula ambiguitas, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ambiguitas diartikan sebagai sifat atau hal yang bermakna dua, ketidaktentuan; ketidakjelasan. Dalam cerpen ini terdapat ketidakjelasan mengenai berita tahi lalat yang terdapat pada dada istri Pak Lurah. Berita tersebut menyebar secara luas dilingkungan masyarakat dan menjadi bahan gosip warga. Tetapi kebenaran mengenai keberadaan tahi lalat tersebut masih belum jelas, dan berita mengenai tahi lalat tersebut juga tidak pasti siapa yang pertama kali meneybarkan berita tersebut. seperti yang terdapat dalam kutipan dibawah ini:
… memang, Pak Lurah dan istrinya bisa serba salah. Apa pun yang dikatakan dijamin tidak dapat menyakinkan tanpa bukti fisik. Sungguh tidak mungkin istri pak lurah diminta membuka dadanya untuk membuktikan ada tahi lalatnya atau tidak,” (Anwar, 2017:20)

“… Tidak penting apakah di dada istri pak lurah ada tahi lalatnya atau tidak. Disebelah kiri atau kanan juga tidak penting. Sebesar biji randu atau sebesar kelapa pun tak masalah. Yang menjadi sangat rawan adalah, bila memeng benar-benar ada, kok sampai ada yang mengetahui hal itu. Siapa pun yang mengetahui tahi lalat di tempat rahasia itu pasti dia adalah orang yang memiliki hubungan khusus dengan istri pak lurah. Bila ditafsirkan lagi, kabar itu tersebar sekarang kemungkinan diketahuinya juga belum lama. Artinya, perempuan itu sudah menjadi istri pak lurah ketika menjalin hubungan khusus dengan orang tadi.” (Anwar, 2017:21)


Diaspora
Salah satu penemuan penting dari studi wacana kolonial adalah diaspora. Istilah diaspora merupakan istilah lain dari perpindahan. Perpindahan yang terdapat dalam cerpen tahi lalat di dada istri pak lurah yaitu perpindahan tempat yang dialami ibu Hanafi dari kota tempat tinggalnya ke kota tempat Pak Lurah tinggal. Perpindahan tersebut tidak semata-mata dilakukan, terdapat relasi kuasa yang terjadi. Pemegang kuasa dalam hal ini adalah tokoh Pak Lurah, karena Pak Lurah pada saat itu memegang karir di kota tempat tinggalnya. Istri Pak Lurah menjadi seseorang yang mau tidak mau harus mengikuti kehendak pemegang kuasa.
Cerpen Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah karya Shoim Anwar menunjukkan dimana kaum perempuan digunakan sebagai bahan untuk menjatuhkan orang lain. Eksistensi kaum perempuan tidak diakui secara menyeluruh, bahkan masih terlihat dan terdengar samar-samar dalam ranah masyarakat.

Demikianlah analisis postkolonial yang terdapat Cerpen Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah karya Shoim Anwar ini dianggap tepat untuk dianalisis melalui teori-teori postkolonial karena menampilkan problematika kehidupan yang melingkupi indikasi pengirim-penerima, penjajah-dijajah, penindas-tertindas, emosinalitas-intelektualitas.



PENUTUP
Cerpen tahi lalat di dada istri pak lurah memperlihatkan suasana relasi kuasa antar tokohnya. Berbagai masalah politik menjadi dasar yang menyeluruh terkait dengan cerpen. Beberapa relasi kuasa yang terdapat dalam cerpen nampaknya telah mempengaruhi psikologis tokoh yang merasakan bahwa dirinya terjajah. Ada yang bergerak untuk melawan bentuk penjajahan tersebut, namun ada pula yang diam saja dan tinggal di tempat sebagai pihak terjajah, karena alasan ketidakberdayaan. Permasalahan yang mencakup pada novel ini di antaranya relasi kuasa, subaltern, ambivalensi, ambiguitas, dan diaspora. Berbagai permasalahan tersebut mendukung cerpen ini untuk dikaji secara mendalam melalui analisis postkolonial.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan:
Pustaka Ilalang.

Bandel, Katrin. 2006. Sastra, Perempuan, dan Seks. Yogyakarta: Jalasutra.

Foulcher, Keith dan Tony Day. 2008. Sastra Indonesia Modern Kritik Postkolonial edisi revisi ‘clearing a space’. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Piliang, Yasraf Amir. 2004. Post-realitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Post-metafisika. Yogyakarta: Jalasutra.

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yasa, I Nyoman. 2012. Teori Sastra dan Penerapannya. Bandung:
Karya Putra Darwati.



M.2 Teks Laporan Hasil Observasi

Teks 1: Kunang-Kunang Kunang-kunang merupakan jenis serangga yang dapat mengeluarkan cahaya yang jelas terlihat saat malam hari. Cahaya in...