Teks 1: Kunang-Kunang
Kunang-kunang
merupakan jenis serangga yang dapat mengeluarkan cahaya yang jelas terlihat
saat malam hari. Cahaya ini dihasilkan dari “sinar dingin” yang tidak
mengandung ultraviolet ataupun sinar inframerah. Terdapat lebih dari 2000
spesies kunang-kunang yang tersebar di daerah tropis di dunia.
Kunang-kunang
hidup di tempat-tempat lembab, seperti rawa-rawa, hutan bakau, dan daerah yang
dipenuhi pepohonan. Kunang-kunang juga ditemukan pada daerah perkuburan yang
tanahnya relatif gembur dan tidak banyak terganggu oleh aktivitas manusia.
Kunang-kunang bertelur saat hari gelap. Telur-telurnya yang berjumlah antara
100 hingga 500 butir diletakkan di tanah, ranting, rumput, tempat berlumut,
atau di bawah dedaunan.
Pada umumnya,
kunang-kunang akan keluar pada malam hari, tetapi ada juga kunang-kunang yang
beraktivitas di siang hari. Mereka yang keluar siang hari ini umumnya ditemukan
tidak mengeluarkan cahaya.
Berdasarkan
hasil pengamatan, tubuh kunang-kunang betina lebih besar dibandingkan
kunang-kunang jantan. Tubuh kunang-kunang terdiri atas tiga bagian: kepala,
thorax, dan perut (abdomen). Kunang- kunang memiliki dua pasang sayap. Sepasang
sayap penutup yang bertekstur keras melindungi sayap di bawahnya sekaligus
melindungi tubuh kunang-kunang. Panjang badannya sekitar 2 cm. Hampir seluruh
makanan kunang-kunang adalah cairan tumbuhan, siput-siputan kecil, serangga,
atau cacing. Bahkan, kunang-kunang memangsa jenisnya sendiri. Makanan bagi
hewan penting untuk pertumbuhan. Dengan makanan, pertumbuhan akan maksimal.
Asupan yang maksimal dapat memberikan kebugaran bagi makhluk hidup.
Cahaya yang
dikeluarkan oleh kunang-kunang tidak berbahaya, malah tidak mengandung
ultraviolet dan inframerah. Cahaya ini dipergunakan kunang-kunang untuk memberi
peringatan kepada pemangsa bahwa kunang-kunang tidak enak dimakan dan untuk
menarik pasangannya. Keahlian mempertontonkan cahaya tidak hanya dimiliki oleh
kunang-kunang dewasa, tetapi juga larva. Kunang-kunang betina sengaja
berkelap-kelip untuk mengundang pejantan. Setelah pejantan mendekat, sang
betina memangsanya. Kunang-kunang jantan lebih sedikit bercahaya dibandingkan
dengan kunang-kunang betina.
Kunang-kunang
merupakan penanda kesehatan sebuah ekosistem (bioindikator) sehingga dapat
membantu manusia untuk menilai apakah sebuah daerah masih bersih dan alami atau
sudah tercemar. Kunang- kunang juga membantu petani dalam proses penyerbukan
dan sebagai pembasmi hama alami.
Teks 2: Kunang-Kunang yang Perlahan
Menghilang
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Bioscience menyatakan kunang-kunang menghadapi ancaman kepunahan. Ada beberapa faktor penyebab terancamkepunahan. Penyebab pertama kepunahan kunang-kunang adalah hilangnya habitat hidup kunang-kunang. Kunang-kunang menderita karena habitat yang menjadi tempat untuk menyelesaikan siklus hidupnya telah menghilang. Misalnya, kunang-kunang Malaysia (Pteroptyx tener), yang terkenal karena panjangnya, harus kehilangan habitatnya untuk berkembang biak di kawasan bakau karena di konversi menjadi perkebunan sawit dan pertanian budidaya.
Dalam
penelitian lain juga disebutkan bahwa polusi cahaya menjadi penyebab kedua
terbesar punahnya kunang-kunang. Penggunaan cahaya buatan pada malam hari, yang
makin marak seabad terakhir, adalah ancaman paling serius kedua bagi
kunang-kunang. Banyak kunang-kunang mengandalkan bioluminescence, reaksi kimia
didalam tubuh mereka yang memungkinkan untuk menyala saat menemukan dan menarik
pasangan. Banyaknya cahaya buatan dapat mengganggu fase ini.
Penelitian
juga mencatat, tingkat kecerahan dibumi mengalami peningkatan sebesar 23
persen. Selain itu, Avalon Owens, seorang kandidat PhD dalam biologi di
Universitas Tufts, menyampaikan bahwa polusi cahaya benar-benar mengacaukan
ritual kawin kunang-kunang yang berdampak kepada regenerasi kunang-kunang.
Penggunaan
insektisida juga berperan dalam penurunan populasi kunang-kunang. Profesor
biologi dari Universitas Sussex, Dave Goulson mengatakan hilangnya habitat
menjadi faktor paling utama yang mendorong kepunahan kunang-kunang, sedangkan
pestisida adalah faktor sekunder yang tidak bisa di kesampingkan.
Selain tiga
faktor itu, pariwisata juga memicu kepunahan kunang- kunang. Di Jepang, Taiwan,
dan Malaysia, misalnya, meningkatnya angka wisatawan yang mencapai 200 ribu
pengunjung membuat populasi kunang-kunang menurun. Di Thailand, peneliti juga
mengatakan bahwa lalu lintas perahu motor di sepanjang sungai bakau telah
menumbangkan pohon dan mengikis tepi sungai serta menghancurkan habitat kunang-
kunang. Sementara itu, spesies yang tidak dapat terbang di injak-injak oleh
wisatawan di Carolina Utara dan Nanacampila di Meksiko.
(Sumber: CNN Indonesia, 2020)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar