Selasa, 15 Juli 2025

M.2 Teks Laporan Hasil Observasi

Teks 1: Kunang-Kunang

Kunang-kunang merupakan jenis serangga yang dapat mengeluarkan cahaya yang jelas terlihat saat malam hari. Cahaya ini dihasilkan dari “sinar dingin” yang tidak mengandung ultraviolet ataupun sinar inframerah. Terdapat lebih dari 2000 spesies kunang-kunang yang tersebar di daerah tropis di dunia.

Kunang-kunang hidup di tempat-tempat lembab, seperti rawa-rawa, hutan bakau, dan daerah yang dipenuhi pepohonan. Kunang-kunang juga ditemukan pada daerah perkuburan yang tanahnya relatif gembur dan tidak banyak terganggu oleh aktivitas manusia. Kunang-kunang bertelur saat hari gelap. Telur-telurnya yang berjumlah antara 100 hingga 500 butir diletakkan di tanah, ranting, rumput, tempat berlumut, atau di bawah dedaunan.

Pada umumnya, kunang-kunang akan keluar pada malam hari, tetapi ada juga kunang-kunang yang beraktivitas di siang hari. Mereka yang keluar siang hari ini umumnya ditemukan tidak mengeluarkan cahaya.

Berdasarkan hasil pengamatan, tubuh kunang-kunang betina lebih besar dibandingkan kunang-kunang jantan. Tubuh kunang-kunang terdiri atas tiga bagian: kepala, thorax, dan perut (abdomen). Kunang- kunang memiliki dua pasang sayap. Sepasang sayap penutup yang bertekstur keras melindungi sayap di bawahnya sekaligus melindungi tubuh kunang-kunang. Panjang badannya sekitar 2 cm. Hampir seluruh makanan kunang-kunang adalah cairan tumbuhan, siput-siputan kecil, serangga, atau cacing. Bahkan, kunang-kunang memangsa jenisnya sendiri. Makanan bagi hewan penting untuk pertumbuhan. Dengan makanan, pertumbuhan akan maksimal. Asupan yang maksimal dapat memberikan kebugaran bagi makhluk hidup.

Cahaya yang dikeluarkan oleh kunang-kunang tidak berbahaya, malah tidak mengandung ultraviolet dan inframerah. Cahaya ini dipergunakan kunang-kunang untuk memberi peringatan kepada pemangsa bahwa kunang-kunang tidak enak dimakan dan untuk menarik pasangannya. Keahlian mempertontonkan cahaya tidak hanya dimiliki oleh kunang-kunang dewasa, tetapi juga larva. Kunang-kunang betina sengaja berkelap-kelip untuk mengundang pejantan. Setelah pejantan mendekat, sang betina memangsanya. Kunang-kunang jantan lebih sedikit bercahaya dibandingkan dengan kunang-kunang betina.

Kunang-kunang merupakan penanda kesehatan sebuah ekosistem (bioindikator) sehingga dapat membantu manusia untuk menilai apakah sebuah daerah masih bersih dan alami atau sudah tercemar. Kunang- kunang juga membantu petani dalam proses penyerbukan dan sebagai pembasmi hama alami.

 (Sumber: Umairti dan Sukana, 2016)

Teks 2: Kunang-Kunang yang Perlahan Menghilang

        Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Bioscience menyatakan kunang-kunang menghadapi ancaman kepunahan. Ada beberapa faktor penyebab terancamkepunahan. Penyebab pertama kepunahan kunang-kunang adalah hilangnya habitat hidup kunang-kunang. Kunang-kunang menderita karena habitat yang menjadi tempat untuk menyelesaikan siklus hidupnya telah menghilang. Misalnya, kunang-kunang Malaysia (Pteroptyx tener), yang terkenal karena panjangnya, harus kehilangan habitatnya untuk berkembang biak di kawasan bakau karena di konversi menjadi perkebunan sawit dan pertanian budidaya.

Dalam penelitian lain juga disebutkan bahwa polusi cahaya menjadi penyebab kedua terbesar punahnya kunang-kunang. Penggunaan cahaya buatan pada malam hari, yang makin marak seabad terakhir, adalah ancaman paling serius kedua bagi kunang-kunang. Banyak kunang-kunang mengandalkan bioluminescence, reaksi kimia didalam tubuh mereka yang memungkinkan untuk menyala saat menemukan dan menarik pasangan. Banyaknya cahaya buatan dapat mengganggu fase ini.

Penelitian juga mencatat, tingkat kecerahan dibumi mengalami peningkatan sebesar 23 persen. Selain itu, Avalon Owens, seorang kandidat PhD dalam biologi di Universitas Tufts, menyampaikan bahwa polusi cahaya benar-benar mengacaukan ritual kawin kunang-kunang yang berdampak kepada regenerasi kunang-kunang.

Penggunaan insektisida juga berperan dalam penurunan populasi kunang-kunang. Profesor biologi dari Universitas Sussex, Dave Goulson mengatakan hilangnya habitat menjadi faktor paling utama yang mendorong kepunahan kunang-kunang, sedangkan pestisida adalah faktor sekunder yang tidak bisa di kesampingkan.

Selain tiga faktor itu, pariwisata juga memicu kepunahan kunang- kunang. Di Jepang, Taiwan, dan Malaysia, misalnya, meningkatnya angka wisatawan yang mencapai 200 ribu pengunjung membuat populasi kunang-kunang menurun. Di Thailand, peneliti juga mengatakan bahwa lalu lintas perahu motor di sepanjang sungai bakau telah menumbangkan pohon dan mengikis tepi sungai serta menghancurkan habitat kunang- kunang. Sementara itu, spesies yang tidak dapat terbang di injak-injak oleh wisatawan di Carolina Utara dan Nanacampila di Meksiko.

(Sumber: CNN Indonesia, 2020)

Jumat, 04 Juli 2025

M.1Teks Laporan Hasil Observasi

 

Belalang Anggrek

        Teman-teman, kali ini saya akan menyampaikan laporan hasil observasi yang telah saya lakukan beberapa waktu lalu. Objek yang diobservasi adalah belalang anggrek. Pertama-tama saya akan menyampaikan informasi umum terkait belalang anggrek. Belalang anggrek atau Hymenopus coronatus adalah salah satu jenis belalang sentadu atau belalang sembah yang hidup di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara lainnya. Seperti namanya, belalang ini memiliki bentuk dan warna yang menyerupai bunga anggrek.

Selanjutnya, saya akan menjelaskan ciri khas belalang anggrek yang terdiri atas bagian tubuh, bentuk tubuh, makanan, dan daur hidupnya. Bagian tubuh belalang anggrek terdiri atas kepala, toraks, dan abdomen. Pada bagian kepala terdapat mata majemuk, mulut, dan dua buah antena seperti benang. Seperti jenis belalang sentadu lainnya, kepala belalang anggrek bisa berputar 360°. Pada bagian toraks terdapat tiga pasang kaki. Kaki depan belalang anggrek yang panjang dan kuat dilengkapi dengan duri dan capit. Belalang anggrek memiliki dua pasang sayap yang menutupi bagian abdomennya. Sayap depan berfungsi untuk melindungi sayap belakang sehingga teksturnya lebih keras.

Gambar 1.2 Belalang Anggrek Putih

        Sumber: Ari Hidayat11/Wikimedia Commons (2015)

 

    Ukuran tubuh belalang anggrek berbeda antara jantan dan betina. Panjang tubuh belalang anggrek jantan sekitar 2,5–3 cm, sedangkan betina 6–7 cm. Tubuh mereka berwarna putih dengan aksen merah muda lembut atau cerah. Beberapa belalang bahkan berwarna benar- benar putih atau merah jambu. Namun, belalang anggrek bisa mengubah warna tubuhnya dalam hitungan sehari, bergantung pada kondisi lingkungan, seperti kelembapan dan kondisi cahaya.


Belalang anggrek merupakan predator polifagus atau pemakan beberapa jenis mangsa. Mereka memangsa serangga lain yang bertubuh lebih kecil, seperti jangkrik, capung, lebah, dan lalat. Belalang anggrek menggunakan bentuk dan warna tubuhnya untuk menarik perhatian mangsa. Saat mangsa mendekat, mereka akan menggunakan kaki depannya untuk menangkap mangsa. Belalang sembah hanya memangsa hewan yang masih hidup.


Belalang anggrek merupakan hewan yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Fase hidupnya terdiri dari telur, nimfa, dan dewasa. Belalang betina dapat bertelur sampai 300 butir. Telur tersebut diletakkan dalam sarang berbentuk buih putih yang disebut ooteka. Ooteka lama-lama akan mengeras dan melindungi telur-telur dari panas dan hujan. Telur-telur tersebut membutuhkan waktu sekitar enam minggu untuk menetas. Saat menetas, nimfa belalang sembah sudah menyerupai belalang anggrek dewasa. Itulah mengapa belalang anggrek disebut mengalami metamorfosis tidak sempurna.


Sebagai penutup, saya akan menyampaikan manfaat belalang anggrek. Belalang anggrek berguna bagi manusia untuk membasmi hama berupa serangga. Selain itu, karena keindahannya, belalang anggrek juga dijadikan peliharaan.


Demikian laporan hasil observasi saya. Terima kasih atas perhatian teman-teman semua.

 

(Disarikan dari Toemon, 2017 dan Bates, 2016)

Senin, 24 Juli 2017

TEORI SASTRA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA


Nama                           : Zahrotul Widad
NIM                            : 165200046
Prodi/Angkatan           : PBSI/ 2016-B
Alamat Blog                : Zahrotulwidad.blogspot.co.id

TUGAS UAS TEORI SASTRA

1.      Lapis Makna Puisi
a)      Subject Matter (Pokok Pikiran)
Subject Matter adalah pokok pikiran yang di kemukakan penyair lewat puisi yang di ciptakannya. Bila sense baru berhubungan dengan gambaran makna dalam puisi secara umum, maka subject matter berhubungan dengan satuan-satuan pokok pikiran tertentu yang secara khusus membangun sesuaatu yang di ungkapkan penyair. (Aminuddin, 2002)
b)     Feeling (Rasa)
Feeling yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. perasaan merupakan unsur ekstrinsik puisi yang paling mewakili perasaan pengarang, ekspresi dapat berupa kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan kekasih, alam, atau sang Khalik. (Herwan, 2005)
c)      Tone (Nada)
Tone yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll. (Herwan, 2005)


d)     Total of meaning (Totalitas makna)
Totalitas makna adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam suatu puisi. Penentuan totalitas makna puisi didasarkan atas pokok pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap penyair di dalam pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap pembaca. Hasil rangkuman dari keseluruhan itu akan membuahkan totalitas makna dalam suatu puisi yang berbeda deebgan sense yang baru memberikan gambaran secara umumsaja kepada pembaca. (Aminuddin, 2002)
e)      Theme
Tema adalah ide dasar dari suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna dalam suatu puisi. Tema berbeda dengan pandangan moral ataupun message meskipun tema itu dapat berupa sesuatu yang memiliki nilai rohaniah. (Aminuddin, 2002)

2.      Analisis Puisi

PUISI 1
MALAM ITU

Malam itu aku seperti tercampakkan
Bagai tebu habis disesap dahaga waktu
Ruang menghampa
Sendiri kian menganga
Tak terkira
Dimanakah dengus yang mendetakkan gairah
Sedang aromamu berseliweran menguntit raga
Kueja detak yang merangkak
Bosan berselimut kelam
Adakah peri mengirim isyarat di sunyi
Sedang kepergianmu menebus rindu
Yang tak kutahu
Ingin kutinggal gelanggang
Menggelandang ke ketiak senyap
Kutawar-tawar rasa
Muntak kujilat kembali dilidah
Ah tak sanggup aku rupanya
(M. Shoim Anwar, Januari 2015)
HASIL ANALISIS PUISI 1

a)      Subject Matter (Pokok Pikiran)
Dari puisi “Malam itu” pokok pikiran yang terdapat dalam puisi adalah ungkapan rindu yang menggebu, senyap dan sunyi yang dirasakan dalam kerinduan setelah kekasihnya pergi. Dalam kerinduan ia merasakan kehadiran sang kekasih, yang berfikir mampu menjalani sendiri namun ia tak sanggup menjalani, seperti yang terdapat dalam bait terakhir puisi.
b)      Feeling (Rasa)
Perasaan adalah sikap penyair terhadap inti masalah dalam puisi. Keseluruhan struktur fisik puisi ini menggambarkan perasaan dan suasana hati penyair. Dalam puisi ini secara jelas menunjukannya. Perasaan rindu yang mendalam kepada seseorang.
c)      Tone (Nada)
Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca (Waluyo, 2005:37). Nada dimaksudkan menyampaikan kisah yang ingin disampaikan penyair tentang permasalahan yang pernah dialami penyair.
Nada puisi ini termasuk nada sendu, karena puisi ini seperti memberikan penjelasan mengenai perasaan sedih dan rindu.
d)     Total of meaning (Totalitas makna)
Dari keseluruhan makna yang terdapat dalam puisi adalah kegelisahan, kesedihan, dan kerinduan kepada seorang yang dicintai, yang tak dapat dilupakan sehingga ia merasa sendiri dalam kesunyian. Dan meskipun dalam kesendirian ia masih merasakan kehadiran sang kekasih.


e)      Theme
Berdasarkan hasil analisis puisi “Malam Itu”, dapat disimpulkan tema dari puisi ini mengenai rasa rindu yang mendalam akan kepergian seseorang yang dicintai.

PUISI 2
RAMBUTMU

Gelombang mengalir di rambutmu
Basah dipagi itu
Memerah tanpa pewarna
Kukeringkan dengan panas darahku
Sebab padamu telah kueja sejarah
Yang terpendam dalam larutan
Di luar lurus lapang
Di dalam meliuk kau sembunyikan
Biarkanlah apa adanya
Rumputan menjalar indah dipandang
Telah kutemukan cermin hidupku
pada rambutmu
Saat kujamah di pagi yang basah
                                                                        (M. Shoim Anwar, Januari 2015)
HASIL ANALISIS PUISI 2

a)      Subject Matter (Pokok Pikiran)
Dalam puisi tersebut terdapat pokok pikiran yang menggambarkan kegembiraan dalam hati sang penyair yang diungkapkan melalui bahasa penyair. Kebahagiaan dan kesenangan yang dialami dalam hidupnya.
b)      Feeling (Rasa)
Perasaan adalah sikap penyair terhadap inti masalah dalam puisi. Keseluruhan struktur fisik puisi ini menggambarkan perasaan dan suasana hati penyair yang menunjukkan rasa bahagia dan penuh gairah. Perasaan yang diungkapkan melalui puisi ini yang digambarkan secara tidak langsung oleh penyair melalui rambut.
c)      Tone (Nada)
Nada puisi “Rambutmu” ini termasuk nada kebahagiaan, karena puisi ini seperti memberikan penjelasan perasaan yang dialami penyair.
d)     Total of meaning (Totalitas makna)
Dalam puisi “Rambutmu” mengandung makna yang menggambarkan suatu kebahagiaan, kesenangan akan suatu hal yang terjadi dan telah terpenuhi, didalam puisi ini terdapat makna yang dalam mengenai suatu peristiwa, penyair menemukan cerminan hidupnya pada rambut kekasihnya yang dimaksudkan adalah ia telah mendapatkan gambaran kehidupannya pada kekasihnya.
e)      Theme
Berdasarkan hasil analisis puisi struktur fisik puisi Rambutmu, dapat disimpulkan tema dari puisi ini mengenai perasaan yang tersampaikan. Perasaan pengarang berupa rasa bahagia karena cinta yang telah menemukan cerminan hidupnya atau kekasih hatinya.

PUISI 3
MENDUNG BERDURI

Balasanmu pendek sekali
Seperti pelepah pisang yang dirajang celurit cemburu
Patahannya menyisakan amis di dada
Mengapa percik getahnya menyiprat ke lading
Yang kutanam dengan cinta
Cuaca sepanjang hari mengirim mendung berduri
Adakah aku harus berlari
Meninggalkan jejak yang terlanjur mengurai sepi
Pada jemarimu telah kutulis sekuntum puisi
Sementara senyap-senyap mawar yang gugur minta kuganti biji esok hari
Tapi kilatan-kilatan celuritmu menuding ke dahi tanpa kumengerti
                                                                        (M. Shoim Anwar, Januari 2015)
HASIL ANALISIS PUISI 3

a)      Subject Matter (Pokok Pikiran)
Dalam puisi “Mendung Berduri” menggambarkan sebuah amarah penyair karena rasa cemburu, dimana penyair telah memberikan cinta tetapi mendapatkan balasan penghianatan hingga ia merasakan kekecewaan yang mendalam, rasa amarah dan kekecewaan yang tidak dapat di mengerti.
b)      Feeling (Rasa)
Perasaan adalah sikap penyair terhadap inti masalah dalam puisi. Puisi ini menggambarkan perasaan dan suasana hati penyair. Dalam puisi ini menunjukkan perasaan sedih yang diungkpakan kepada seseorang. Penyair mengungkapkan perasaan kecewa dan sedih dalam puisi ini.
c)      Tone (Nada)
Nada puisi “Mendung Berduri” ini termasuk nada sendu, puisi ini seperti memberikan penjelasan mengenai  perasaan sedih dan kecewa yang ditahan yang dialami penyair yang telah memberikan cinta namun mendapatkan balasan yang pahit.
d)     Total of meaning (Totalitas makna)
Makna puisi “Mendung Berduri” adalah perasaan penyair terhadap seseorang yang dicintai. Tetapi oran tersebut justru memberikan balasan yang amat pahit. Dari judul puisi ini dapat diartikan bahwa mendung memiliki makna gelap dan dalma kegelapan itu juga terdapat duri yang telah menyakitinya. Penyair mencoba untuk menungkapkan rasa sedih dan kecewa yang telah dialami.
e)      Theme
Berdasarkan hasil analisis puisi ini memiliki tema mengenai perasaan kecewa yang tertahan. Perasaan pengarang berupa rasa kecewa dan sedih yang disembunyikan penyair kepada tambatan hatinya.





3.      Analisis cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” berdasarkan teori postkolonial

PENDAHULUAN
Postkolonial merupakan sebuah wacana yang sangat menarik dan menantang. Melalui teks masyarakat postkolonial mampu mengekspresikan dan menemukan sarana resistensinya yang tajam. Menurut Foulcher dan Day (2008:4) postkolonial adalah salah satu kritik sastra yang mengkaji atau menyelidiki karya sastra tentang tanda-tanda atau pengaruh kolonial. Unsur-unsur postkolonial dapat ditemukan dalam karya satra seperti cerpen, puisi, novel dan drama.
Teori postkolonial dimanfaatkan untuk menganalisis khasanah kultural yang menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi di negara-negara pascakolonial. Salah satu negara yang merupakan pascakolonial adalah Indonesia. Berdasarkan pemahaman tersebut, sesungguhnya kritik postkolonial adalah suatu jaringan sastra atas rekam jejak kolonialisme. Apabila ditelusuri dengan cermat, tentu banyak karya sastra Indonesia modern yang merekam jejak kolonialisme bangsa Barat dan Asia Timur Raya sepanjang sejarahnya. Atas dasar kenyataan sejarah bahwa Indonesia pernah menjadi bagian dari kolonialisme atau bangsa yang terjajah hingga ratusan tahun dan banyaknya karya sastra yang merekam jejak penjajahan, tentu sastra Indonesia modern menjadi gudang penelaahan postkolinialisme.
Masalah bahasa berkaitan dengan pengaruh bahasa kolonial terhadap bahasa terjajah, cara pengungkapan postkolonilitas dalam teks sastra Indonesia, dan cara yang digunakan oleh para penulis bekas jajahan dalam mendekolonisasi (kesadaran kebangsaan) bahasa penjajahan besar. Sementara itu, masalah identitas berkaitan dengan masalah hibriditas, yakni masalah jati diri bangsa yang berubah karena adanya pengaruh budaya dari bangsa kolonial.
Kekuasaan kolonial Belanda membawa dampak terhadap perkembangan kesusasteraan di Hindia-Belanda hingga masa periode awal kemerdekaan Indonesia. Kolonial sendiri memiliki keterkaitan dengan sifat jajahan. Kolonialisme merupakan momen historis yang melatarbelakangi suatu bangsa. Kolonialisme telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan dan kebudayaan masyarakat jajahan. Bisa berupa pemaksaan bahasa, perbudakan, peniruan dan penggantian budaya dan pemindahan penduduk. Berkaitan dengan kolonialisme, poskolonialisme mengacu pada praktik-praktik yang berkaitan dengan ‘hirarki sosial, struktur kekuasaan dan wacana kolonialisme’ Gilbert dan Tompkins (dalam Allen, 2004:207). Munculnya poskolonialisme menjadi wacana intelektual utama, lebih utamanya di negara-negara bekas jajahan.
Teori postkolonial digunakan sebagai strategi pembacaan yang dapat diharapkan mampu mengungkapkan pemaknaan baru. Metode struktural yang digunakan untuk menarik benang merah terhadap unsur-unsur struktur cerpen Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah karya M. Shoim Anwar. Sumber data analisis diperoleh dari tuturan tokoh dan paparan dalam cerpen tersebut yang menunjukkan relasi kuasa, subaltern, ambivalensi, ambiguitas, dan diaspora.

PEMBAHASAN
Secara umum postkolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Dalam pengertian yang lebih luas, postkolonial juga mengacu pada objek sebelum dan pada saat terjadinya kolonialisme. Oleh sebab itu, Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya, Postkolonialisme Indonesia Relevansi Sastra (2008:81—82) mengemukakan lima pokok pengertian postkolonial, yaitu (1) menaruh perhatian untuk menganalisis era kolonial, (2) memiliki kaitan erat dengan nasionalisme, (3) memperjuangkan narasi kecil, menggalang kekuatan dari bawah, sekaligus belajar dari masa lampau untuk menuju masa depan, (4) membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan bukan semata-mata dalam bentuk fisik, melainkan juga psikis, dan (5) bukan semata-mata teori, melainkan kesadaran bahwa banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan, seperti memerangi imperalisme, orientalisme, rasialisme, dan berbagai bentuk hegemoni lainnya.
Dalam kaitannya dengan kritik sastra, postkolonial dipahami sebagai suatu kajian tentang bagaimana sastra mengungkapkan jejak perjumpaan kolonial, yaitu konfrontasi antarras, antarbangsa, dan antarbudaya dalam kondisi hubungan kekuasaan tidak setara, yang telah membentuk sebagian yang signifikan dari pengalaman manusia sejak awal zaman imperialisme Eropa (Day dan Foulcher, 2008:2—3). Jadi, menurut Day dan Foulcher, kritik postkolonial adalah strategi membaca sastra yang mempertimbangkan kolonialisme dan dampaknya dalam teks sastra, posisi, atau suara pengamat berkaitan dengan isu tersebut.
Seperti pada cerpen Dalam Kejaran Sang Raksasa, dimana ada konfrontasi antar-ras antara pemimpin dengan rakyatnya,
“ Kematian mertua membuat demo warga korban lumpur untuk meminta ganti rugi pada perusahaan pengeboran dan pemerintah makin menguat. Di samping memblokade jalan raya, ada pula yang ngluruk ke Jakarta. Kemacetan panjang sering terjadi karena warga menutup akses jalan raya…. Ketegangan dengan polisi tak terhindarkan, bahkan kami pernah dikatakan sebagai penjahat karena memblokade jalan. Semua berjalan sangat alot. Meski begitu, taka da yang mampu menyelesaikan nasib kami, apa lagi menghentikan semburan lumpur. Kami hidup dalam impian janji-janji…” (Anwar, 2017:176)
Kutipan tersebut mengungkapkan bahwa adanya kekuasaan dalam suatu wilayah menjadikan salah satu diantaranya merasa tertekan, tertindas, dan juga merasa dirugikan.

Relasi Kuasa
Fanon menyatakan bahwa melalui dikotomi kolonial, penjajah-terjajah, wacana oriental telah melahirkan alienasi dan marginalisasi psikologis yang sangat dahsyat (dalam Ratna, 2007:206). Pendapat tersebut diperjelas Ratna bahwa kekuasaan tidak terbentuk secara struktural, melainkan mengalir melalui masyarakat secara kapiler, kekuasaan bukan karena menguasai segala-galanya, melainkan karena berasal dari mana-mana (2007:210).
Pendapat Fanon marginalisasi psikologis dikotomi kolonial telah didukung oleh pendapat Piliang bahwa terdapat permainan gender-meskipun berlangsung di dalam dunia virtual-bukannya tidak memberikan efek psikologis di dunia nyata (2010:300). Hal tersebut telah terjadi pada cerpen Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah. Terdapat relasi kuasa pada cerpen tersebut. Pertama, antara tokoh janda Pak Sarmin dengan Pak Lurah. Kedua, antara Pak Lurah dengan warga desa. Ketiga antara Istri Pak Lurah dengan warga desa. Beberapa relasi kuasa tersebut nampaknya telah mempengaruhi psikologis tokoh yang merasakan bahwa dirinya terjajah. Ada yang bergerak untuk melawan bentuk penjajahan tersebut, namun ada pula yang diam saja dan tinggal di tempat sebagai pihak terjajah, karena alasan ketidakberdayaan. Ketiga relasi kuasa tersebut dapat dengan sendirinya muncul dengan beberapa penjelasan dan kutipan di bawah ini:
“ Kematian mertua membuat demo warga korban lumpur untuk meminta ganti rugi pada perusahaan pengeboran dan pemerintah makin menguat. Di samping memblokade jalan raya, ada pula yang ngluruk ke Jakarta. Kemacetan panjang sering terjadi karena warga menutup akses jalan raya…. Ketegangan dengan polisi tak terhindarkan, bahkan kami pernah dikatakan sebagai penjahat karena memblokade jalan. Semua berjalan sangat alot. Meski begitu, taka da yang mampu menyelesaikan nasib kami, apa lagi menghentikan semburan lumpur. Kami hidup dalam impian janji-janji…” (Anwar, 2017:176)

“ Tragedi Marsinah membuat ketakutan para buruh di pabrik jam. Mereka khawatir jangan-jangan sang raksasa itu bakal mencari mangsa lagi. Dengan diam-diam Lusi pindah ke pabrik  lain…” (Anwar, 2017:173)

Dari kutipan cerpen diatas, terlihat bahwa terdapat relasi kuasa antar tokoh. Ada yang melakukan perlawaan, namun ada pula yang hanya diam tak melakukan perlawanan, entah karena tidak berdaya atau memang ingin tetap hidup dengan aman dan nyaman.

Ambiguitas
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ambiguitas diartikan sebagai sifat atau hal yang bermakna dua, ketidaktentuan; ketidakjelasan. Dalam cerpen ini terdapat ketidakjelasan mengenai “Sang Raksasa” yang terdapat dalam cerpen Dalam Kejaran Sang Raksasa. Sang Raksasa disini memiliki makna yang tidak jelas seperti yang terdapat dalam kutipan dibawah ini:

“ Sambil berteriak istriku melemparkan terasi ke belakang. Terasi itu segera berubah menjadi lumpur. Raksasa tadi terhambat dan kakinya tertancap. Tapi anehnya, tidak seperti dalam dongeng, beberapa saat tubuh raksasa makin membesar. Hentakan kedua kakinya menimbulkan bunyi mendebam. Jejaknya menjadi kolam yang segera dialiri oleh lumpur…” (Anwar, 2017: 169)

“ Tapi sayang, nasib Marsinah berakhir dengan tragis, sebelum perjuangannya tercapai secara merata. Dia dijegal di Tugu Kuning saat pulang bersama Timas. Marsinah berteriak minta tolong. Timas tak kuasa karena sang raksasa membetotnya dengan cepat. Marsinah dibunuh dan dimangsa oleh sang raksasa itu…” (Anwar, 2017: 173)

“… Sang raksasa bermetamorfosa dan masuk ke tubuh-tubuh para pengungsi, menerobos lubang pori-pori, mengalir bersama darah, memompa jantung dan menghembuskan api permusuhan. Kini sang raksasa ada di mana-mana, mengendalikan para pengungsi hingga detak nafasnya.” (Anwar, 2017:177)

Dalam tiga kutipan cerpen diatas terdapat tiga asumsi yang berbeda mengenai “Sang Raksasa”. Pada kutipan pertama “Sang raksasa” digambarkan sebagai raksasa sungguhan yang mencari mangsa dan akan menghabisi setiap orang, begitupun pada kutipan kedua dimana sang raksasa berhasil memangsa Marsinah. Dan pada kutipan ketiga, snag raksasa digambarkan sebagai suatu yang berbahaya yang telah menyebarkan api permusuhan yang sangat besar. Jadi dari ketiga kutipan tersebut sang raksasa mempunyai makna yang berbeda dan tidak jelas.

Diaspora
Salah satu penemuan penting dari studi wacana kolonial adalah diaspora. Istilah diaspora merupakan istilah lain dari perpindahan. Perpindahan yang terdapat dalam cerpen Dalam Kejaran Sang Raksasa yaitu perpindahan tempat yang dialami tokoh aku dari kota tempat tinggalnya ke kota tempat istri Aku tinggal.

“ … Timas takut dirinya tidak subur seperti halnya ibunya yang hanya mampu melahirkan seorang anak meski telah berumah tangga sekitar empat puluh tahun. Tapi keuntungan lain ada pula. Karena belum ada anak, gaji kami berdua bisa untuk memperbaiki rumah yang kami tempati. Tanpa sepengetahuan Timas, aku juga masih dapat membantu keluarga di kampong halaman…” (Anwar, 2017: 174)

Tokoh aku dalam cerpen ini sebelum menikah ia tinggal bersama keluarganya dan setelah menikah ia berpindah dan tinggal bersama keluarga istrinya karena istri Aku merupakan anak tunggal.
Demikianlah analisis postkolonial yang terdapat Cerpen Dalam Kejaran Sang Raksasa karya Shoim Anwar ini dianggap tepat untuk dianalisis melalui teori-teori postkolonial karena menampilkan problematika kehidupan yang melingkupi indikasi pengirim-penerima, penjajah-dijajah, penindas-tertindas, emosinalitas-intelektualitas.


PENUTUP

Cerpen Dalam Kejaran Sang Raksasa memperlihatkan suasana relasi kuasa antar tokohnya. Berbagai masalah politik menjadi dasar yang menyeluruh terkait dengan cerpen. Beberapa relasi kuasa yang terdapat dalam cerpen nampaknya telah mempengaruhi psikologis tokoh yang merasakan bahwa dirinya terjajah. Ada yang bergerak untuk melawan bentuk penjajahan tersebut, namun ada pula yang diam saja dan tinggal di tempat sebagai pihak terjajah, karena alasan ketidakberdayaan. Permasalahan yang mencakup pada cerpen ini di antaranya relasi kuasa, subaltern, ambiguitas, dan diaspora. Berbagai permasalahan tersebut mendukung cerpen ini untuk dikaji secara mendalam melalui analisis postkolonial.



DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung:
Sinar Baru Algensindo.

Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan:
Pustaka Ilalang.

Herwan, FR. 2005. Apresiasi dan kajian puisi. Serang: Gerage Budaya.

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yasa, I Nyoman. 2012. Teori Sastra dan Penerapannya. Bandung:
Karya Putra Darwati.




M.2 Teks Laporan Hasil Observasi

Teks 1: Kunang-Kunang Kunang-kunang merupakan jenis serangga yang dapat mengeluarkan cahaya yang jelas terlihat saat malam hari. Cahaya in...