Sabtu, 13 Mei 2017

Teori Feminisme

TEORI FEMINISME
Dosen Pengampu: Dr. M. Shoim Anwar, M.P.d.
Mata Kuliah: Teori Sastra



Oleh :
2016 B/kelompok 5
1.      Muhammad Asroril Ibad       (165200058)
2.       Rosi Anisa Putri                   (165200041)
3.      Zahrotul Widad                     (165200046)
4.      Yuliana Irene G                     (1652000100)
5.      Apolinaris Komul                  (165200062)




PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA
SURABAYA
2017






TEORI FEMINISME

A.    Pengertian Feminisme
Feminisme merupakan gerakan pemberontakan terhadap kaum laki-laki, upaya melawan pranata sosial yang ada, seperti institusi rumah tangga, perkawinan, maupun usaha pemberontakan perempuan untuk mengingkari kodrat.
Karena adanya prasangka tersebut, maka feminisme tidak mendapat tempat pada kaum perempuan, bahkan ditolak oleh masyarakat, sedangkan menurut kaum feminis, feminisme seperti hal nya aliran pemikiran dan gerakan yang lain, bukan merupakan suatu pemikiran dan gerakan yang berdiri sendiri, akan tetapi meliputi berbagai ideologi, paradigma serta teori yang dipakainya.
Tujuan dari feminisme itu adalah kepedulian memperjuangkan nasib perempuan. Hal itu dikarenakan ada nya kesadaran bahwa perempuan ditindas, di eksploitasi, dan berusaha untuk menghindari penindasan dan eksploitasi. (dalam: http://wacanasosiologi.blogspot.co.id/2011/12/memahami-teori-feminisme.html )
Secara etimologis feminis berasal dari kata famme (woman), berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial.
Teori-teori feminis, sebagai alat kaum wanita untuk memperjuangkan hak-haknya, erat berkaitan dengan konflik kelas dan ras, khususnya konflik gender. Artinya, antara konflik kelas dengan feminism memiliki asumsi-asumsi yang sejajar, mendekonstruksi sistem dominasi dan hegemoni, pertentangan antara kelompok yang lemah dengan kelompok yang dianggap lebih kuat.
Menurut Teeuw beberapa indikator yang diaggap telah memicu lahirnya gerakan feminism di dunia Barat adalah:
  1. Berkembangnya teknik kontrasepsi, yang memungkinkan perempuan melepaskan diri dari keuasaan lelaki.
  2. Radikalisasi politik, khususnya sebagai akibat perang Vietnam.
  3. Lahirnya gerakan pembebasan dari ikatan-ikatan tradisional.
  4. Sekularisasi, menurutnya wibawa agama dalam segala bidang kehidupan.
  5. Perkembangan pendidikan yang secara khusus dinikmati oleh perempuan.
  6. Reaksi terhadap pendekatan sastra yang mengasingkan karya dari struktur sosial, seperti KritikBaru dan strukturalisme.
  7. Ketidkapuasan terhadap teori dan praktik ideology Marxis.
Menurut Selden (1986:130-131) ada lima masalah yang biasanya muncul dalam kaitannya dengan teori feminis, yaitu:
1. Masalah biologis
2. Pengalaman
3. Wacana
4. Ketaksadaran
5. Pengalaman
6. Masalah sosioekonomi. (Kutha Ratna, 2013: 183-184)

B.     Aliran Feminisme.
Feminisme memiliki delapan aliran yang meliputi
1.      Feminisme Liberal
Aliran ini dipengaruhi oleh teori struktural fungsionalisme,muncul sebagai kritik terhadap teori kritik liberal yang pada umumnya menjunjung tinggi nilai otonomi, persamaan, dan nilai moral, serta kebebasan individu, akan tetapi pada saat bersamaan dianggap mendeskriminasi kaum perempuan. Dalam mendefinisikan masalah kaum perempuan, aliran ini tidak melihat struktur dan sistem sebagai pokok permasalahan. Feminisme liberal memiliki asumsi dasar bahwa kebebasan atau freedom dan kesamaan (equality) berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Menurut kerangka feminis liberal dalam memperjuangkan persoalan masyarakat tertuju pada kesempatan yang sama dan hak yang samabagi setiap individu,  termasuk didalamnya kaum perempuan. Menurut aliran feminisme liberal, kaum perempuan dalam keadaan tertinggal disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri. Artinya, jika sistem sudah memberikan kesempatan yang sama pada laki-laki dan perempuan, tetapi ternyata kaum perempuan tersebut kalah bersaing, maka kaum perempuan tersebut harus disalahkan. Menurut aliran feminisme liberal cara yang dilakukan untuk memecahkan masalah kaum perempuan dengan cara menyiapkan kaum permpuan agar bisa bersaing dalam suatu dunia yang penuh persaingan bebas. Contohnya dalam program-program perempuan dalam pembangunan  ( women in development) yakni dengan menyediakan program intervensi guna menigkatkan taraf  hidup keluarga seperti pendidikan dan ketrampilan serta kebijakan yang dapat meningkatkan kemampuan perempuan sehingga mampu berpartisipasi dalam pembangunan. Feminisme liberal tidak pernah mempersoalkan diskriminasi sebagai akibat dari ideologi patriarkhi.
2.      Feminisme Radikal
Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 1970-an di mana aliran ini menawarkan ideologi "perjuangan separatisme perempuan". Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang "radikal". Feminis Liberal memilki pandangan mengenai negara sebagai penguasa yang tidak memihak antara kepentingan kelompok yang berbeda yang berasl dari teori pluralisme negara. Mereka menyadari bahwa negara itu didominasi oleh kaum Pria, yang terlefleksikan menjadi kepentingan yang bersifat “maskulin”, tetapi mereka juga menganggap bahwa negara dapat didominasi kuat oleh kepentiangan dan pengaruh kaum pria tadi. Singkatnya, negara adalah cerminan dari kelompok kepentingan yang memeng memiliki kendali atas negara tersebut. Untuk kebanyakan kaum Liberal Feminis, perempuan cendrung berada “didalamnegara hanya sebatas warga negara bukannya sebagai pembuat kebijakan. Sehingga dalam hal ini ada ketidaksetaraan perempuan dalam politik atau bernegara. Pun dalam perkembangan berikutnya, pandangan dari kaum Feminist Liberal mengenai “kesetaraan” setidaknya memiliki pengaruhnya tersendiri terhadap perkembangan “pengaruh dan kesetaraan perempuan untuk melakukan kegiatan politik seperti membuat kebijakan di sebuah negara”.
Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik. "The personal is political" menjadi gagasan anyar yang mampu menjangkau permasalahan prempuan sampai ranah privat, masalah yang dianggap paling tabu untuk diangkat ke permukaan. Informasi atau pandangan buruk (black propaganda) banyak ditujukan kepada feminis radikal. Padahal, karena pengalamannya membongkar persoalan-persoalan privat inilah Indonesia saat ini memiliki Undang Undang RI no. 23 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).
3.      Feminisme Post Modern
Ide Posmo menurut anggapan mereka  ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.
4.      Feminisme Anarkis
Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan sistem patriaki dominasi lelaki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.
5.      Feminisme Marxis
Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Teori Friedrich Engels dikembangkan menjadi landasan aliran ini status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaaan pribadi (private property). Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange). Laki-laki mengontrol produksi untuk exchange dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial. Sedangkan, perempuan direduksi menjadi bagian dari property. Sistem produksi yang berorientasi pada keuntungan mengakibatkan terbentuknya kelas dalam masyarakat borjuis dan proletar. Jika kapitalisme tumbang maka struktur masyarakat dapat diperbaiki dan penindasan terhadap perempuan dihapus. Kaum Feminis Marxis, menganggap bahwa negara bersifat kapitalis yakni menganggap bahwa negara bukan hanya sekadar institusi tetapi juga perwujudan dari interaksi atau hubungan sosial. Kaum Marxis berpendapat bahwa negara memiliki kemampuan untuk memelihara kesejahteraan, namun disisi lain, negara bersifat kapitalisme yang menggunakan sistem perbudakan kaum wanita sebagai pekerja.
6.      Feminisme Sosialis
Sebuah faham yang berpendapat "Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme". Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.
Feminisme sosialis muncul sebagai kritik terhadap feminisme Marxis. Aliran ini mengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. Ia sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan. Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah sumber penindasan itu. Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung. Seperti dicontohkan oleh Nancy Fraser di Amerika Serikat keluarga inti dikepalai oleh laki-laki dan ekonomi resmi dikepalai oleh negara karena peran warga negara dan pekerja adalah peran maskulin, sedangkan peran sebagai konsumen dan pengasuh anak adalah peran feminin. Agenda perjuagan untuk memeranginya adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki. Dalam konteks Indonesia, analisis ini bermanfaat untuk melihat problem-problem kemiskinan yang menjadi beban perempuan.
7.      Feminisme Postkolonial
Dasar pandangan ini berakar di penolakan universalitas pengalaman perempuan. Pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan prempuan berlatar belakang dunia pertama. Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami pendindasan berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama. Dimensi kolonialisme menjadi fokus utama feminisme poskolonial yang pada intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat. Beverley Lindsay dalam bukunya Comparative Perspectives on Third World Women: The Impact of Race, Sex, and Class menyatakan, “hubungan ketergantungan yang didasarkan atas ras, jenis kelamin, dan kelas sedang dikekalkan oleh institusi-institusi ekonomi, sosial, dan pendidikan.”
8.      Feminisme Nordic
Kaum Feminis Nordic dalam menganalisis sebuah negara sangat berbeda dengan pandangan Feminis Marxis maupun Radikal.Nordic yang lebih menganalisis Feminisme bernegara atau politik dari praktek-praktek yeng bersifat mikro. Kaum ini menganggap bahwa kaum perempuan “harus berteman dengan negara” karena kekuatan atau hak politik dan sosial perempuan terjadi melalui negara yang didukung oleh kebijakan sosial negara. (Dalam: http://wacanasosiologi.blogspot.co.id/2011/12/memahami-teori-feminisme.html )




DAFTAR PUSTAKA

Kutha Ratna, Nyoman. 2013. Teori, Metode, Dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


T.N. 2011. “Teori Feminisme”. Dalam: http://wacanasosiologi.blogspot.co.id/2011/12/memahami-teori-feminisme.html. (Diakses pada tanggal 28 April 2017)

Teori Analisis Struktural Puisi

ANALISIS STRUKTURAL PUISI
Dosen Pengampu: M Shoim Anwar, M.Pd.
Mata Kuliah: TEORI SASTRA




Oleh :
2016 B/kelompok 5
1.      Rosi Anisa Putri                    (165200041)
2.      Zahrotul Widad                     (165200046)
3.      Muhammad Asroril Ibad       (165200058)
4.      Apolinaris Komul                  (165200062)
5.      Yuliana Irene G                     (1652000100)





PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA
SURABAYA
2017



ANALISIS STRUKTURAL PUISI
Analisis struktural puisi adalah analisis puisi ke dalam unsur-unsurnya dan fungsinya bahwa setiap unsur itu mempunyai makna hanya dalam kaitannya dengan unsur-unsur lainnya, bahkan juga berdasarkan tempatnya dalam struktur.
Analisis struktural meliputi, struktur fisik dan struktur batin puisi. Struktur fisik (surface structure)  terdiri dari perwajahan puisi (tipografi), diksi, imaji, kata konkret, gaya bahasa, rima dan irama. Sedangkan struktur batin (deep structure) terdiri dari tema (sense), rasa (feeling), nada (tone), dan amanat (intention).

1.        Struktur fisik (surface structure)
Struktur fisik pada puisi meliputi:
a)    Perwajahan puisi (tipografi)
             Tipografi merupakan bentuk fisik atau penyusunan baris-baris dalam puisi. Peranan tipografi dalam puisi adalah untuk menampilkan aspek artistik visual dan untuk menciptakan nuansa makna tertentu. Selain itu, tipografi juga berperan untuk menunjukan adanya loncatan gagasan serta memperjelas adanya satuan-satuan makna tertentu yang ingin dikemukakan penyair.

b)   Diksi
              Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
c)    Imaji
Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
d)   Kata konkret
Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
e)    Gaya bahasa
Gaya bahasa, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Gaya bahasa disebut juga majas. Adapun macam-macam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.

f)    Rima dan irama
Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Sedangkan irama adalah lagu kalimat yang digunakan penyair dalam mengapresiasikan puisinya.

2.    Struktur batin (deep structure)
            Struktur batin pada puisi meliputi:
a)    Tema (sense)
             Media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.

b)   Rasa (feeling)
Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. perasaan merupakan unsur ekstrinsik puisi yang paling mewakili perasaan pengarang, ekspresi dapat berupa kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan kekasih, alam, atau sang Khalik.
c)    Nada (tone)
Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
d)   Amanat (intention)
              Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang melalui penulisan puisi. amanat yang hendak disampaikan oleh pengarang dapat ditelaah setelah kita memahami tema, rasa, dan nada puisi. tujuan/amanat merupakan hal yang mendorong pengarang untuk menciptakan puisi. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun dan tema yang diungkapkan.




DAFTAR PUSTAKA


Herwan, FR.2005. Apresiasi dan kajian puisi. Serang: Gerage Budaya.

Nurgiyantoro, Burhan.2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
 University Press.
Ensen.2014.”TeoriStruktural”.Dalam http://duniasastradanbahasaindonesia.blogspot.com/2014/04/teori-struktural.html (diakses pada tanggal 31 Maret 2017)


Analisis Cerpen Pesta Keluarga

ANALISIS UNSUR INTRINSIK CERPEN “PESTA KELUARGA” DALAM SEKUMPULAN CERPEN TAHI LALAT DI DADA ISTRI PAK LURAH KARYA M. SHOIM ANWAR
Dosen Pengampu: Dr. M Shoim Anwar, M.Pd.
Mata Kuliah: TEORI SASTRA



Oleh :
2016 B/kelompok 5
1.      Muhammad Asroril Ibad           (165200058)
2.      Rosi Anisa Putri                         (165200041)
3.      Zahrotul Widad                          (165200046)
4.      Yuliana Irene G                         (1652000100)
5.      Apolinaris Komul                       (165200062)


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA
SURABAYA
2017









KAJIAN TEORI

A. Pengertian Cerpen
Cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam cerpen dipisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian, peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan (Kosasih dkk, 2004:431).
Cerpen dapat dikategorikan sebagai prosa fiksi yang menceritakan seseorang atau beberapa orang  dalam  situasi dan satu saat tertentu.  Cerpen juga disebut dengan cerita rekaan yang relatif pendek karena dapat selesai dibaca dalam satu kali pembacaan.
Pada posting kali ini, kita akan membahas unsur intrinsik dari  cerpen. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur pembangun yang ada di dalam tubuh cerpen itu sendiri. Jadi, unsur ini membangun dari dalam cerpen untuk membentuk susunan cerpen secara keseluruhan.


B. Unsur-unsur Cerpen
Cerpen mempunyai unsur-unsur yang terkandung di dalamnya, unsur-unsur tersebut adalah:
1.        Tema
Tema adalah gagasan, ide atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra. Tema merupakan jiwa dari seluruh bagian cerita. Dalam penyampaiannya, ada tema yang disampaikan secara tersurat dan apa pula yang tersirat.

2.        Tokoh
Tokoh sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu :
a.       Tokoh protagonis :  tokoh yang membawakan perwatakan positif.
b.      Tokoh antagonis :  tokoh yang membawakan perwatakan negative.

3.        Penokohan
Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh.
Adapun cara penyajian watak tokoh adalah sebagai berikut :

a. Melalui hal yang diperbuatnya
b.  Melalui ucapan-ucapannya.
c.  Melalui penggambaran fisik tokoh
d. Melalui pikiran-pikiran tokoh
e.  Melalui penerangan (penjelasan)

4.        Alur (plot)
Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita. Berdasarkan susunan periode waktu, alur dapat dibedakan menjadi:
a.        Alur konvensional : berurutan dari awal sampai akhir
b.        Alur nonkonvensional : maju dan mundur

5.        Latar (setting)
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, suasana dan situasi terjadinya peristiwa dalam cerita. Ada tiga unsur pokok dalam latar yaitu latar tempat, latar waktu dan latar suasana.

6.        Sudut pandang
Sudut pandang adalah cara memandang dan menghadirkan tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan diri pengarang pada posisi tertentu. Ada dua macam sudut pandang yang biasa dipakai yaitu :
a.    Sudut pandang orang pertama
Sudut pandang orang pertama dibedakan menjadi dua, yaitu ‘aku’ tokoh utama dan ‘aku’ tokoh tambahan.


b.    Sudut pandang orang ketiga
Sudut pandang orang ketiga dibedakan menjadi dua, yaitu orang ketiga serbatahu dan orang ketiga terbatas (sebagai pengamat).

7.        Gaya bahasa
Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa (oleh pengarang) dalam upaya menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah. Gaya bahasa merupakan cara pengungkapan yang khas bagi setiap pengarang. Gaya bahasa dapat menciptakan suasana yang berbeda-beda.

8.        Amanat
Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya.dalam penyampaiannya, amanat disampaikan secara tersurat ataupun tersirat melalui individu ciptaan pengarang dalam cerita.

















PEMBAHASAN

Unsur intrinsik yang terdapat dalam cerpen adalah sebagai berikut:
1. Tema
Cerpen ini mengandung tema “KESIALAN”. Kesialan yang dialami oleh anggota keluarga karena kurang berhati-hati dalam melakukan sesuatu.

2. Tokoh
Tokoh dalam cerpen adalah:
1) Aku  atau Pak Rais
2) Istri Pak Rais
3) Rudi (anak pak Rais)
4) Andi (anak pak Rais)
5) Netty (anak pak Rais)
6) Pardi
7)  Markasan
8) Bagio
9) Hadi

3. Penokohan

1)  Aku  (Pak Rais)           : bertanggung jawab , baik, mudah terpengaruh.
“aku tetap mempertahankan daging itu. Tapi, hingga pukul satu siang, belum juga ada yang menanyakan…aku khawatir, jika dibiarkan akan membusuk dan baunya bisa menyebar” (Anwar, 2017: 100)
“ … tak ada pilihan lain, aku akhirnya menurut saja pada kehendak mereka” (Anwar, 2017: 101)

2) Istri pak Rais   : pandai memasak, masa bodoh.
itu apa?, aku menuding ke panic diatas kompor. “Gulai,” jawab istriku sambil mengaduk masakannya. “Wah, enak,” aku mendekat. Terlihat gulai berwarna kuning itu mendidih…” (Anwar, 2017: 102)
Tapi itu bukan milik kita,” aku menyela. “Daripada busuk dan dibuang kan lebih baik dimasak,” istriku berdalih (Anwar, 2017: 101)

4)  Alur cerita dalam cerpen ini adalah alur maju.
Yaitu alur yang peristiwanya berurutan mulai dari cerita awal hingga akhir. Dalam cerpen ini menceritakan kehidupan seorang pengemudi angkot yang kemudian mendapatkan masalah dari sebuah kantung kresek yang ditemukan di dalam angkotnya. Dan dibawah ini dijelaskan tahapan dari alur maju yang terdapat dalam cerpen:

a. Tahap pengenalan
Tahap pengenalan dimulai dari paragraph awal yang terdapat pada dalam cerpen.
“Pukul sepuluh, bagi pengemudi bemo atau mikrolet, adalah jam mati. Penumpang sudah mulai sepi. Mereka yang berangkat ke kantor, para buruh, pekerja kasar, anak-anak sekolah, serta mereka yang berbelanja ke pasar sudah pada nyampai di tempatnya. Jalanan sudah mulai agak sepi…” (Anwar, 2017:97)
Hingga pada kutipan percakapan berikut :
“Bemo yang aku kemudikan akhirnya sampai di dekat stasiun. Satu-satunya penumpang itu turun juga dan berjalan minggir ke tempat yang teduh.” (Anwar, 2017:99)

b. Tahap pemunculan konflik
Setelah tahap pengenalan, mulai muncul konflik atau permasalahan. Dalam cerpen ini munculnya permasalahan dimulai saat pak Rais menemukan kantung kresek di bawah kursi yang terdapat dalam bemo nya.
“Bu, barangnya ketinggalan!” aku memanggilnya agak keras.” (Anwar, 2017:99)
 “Ada orang mencari barangnya yang ketinggalan di bemo?” tanyaku pada teman-teman sopir di pangkalan.” (Anwar, 2017:100)
 “Aku tetap mempertahankan daging itu. Tapi, hingga pukul satu siang, belum juga ada yang menanyakan. Padahal aku sudah melewati rute dan mangkal di tempat yang sama. Aku khawatir, jika dibiarkan tentu daging itu akan membusuk dan baunya bisa menyebar….” (Anwar, 2017:100)

c. Tahap klimaks
Pada tahap klimaks masalah yang dimalami sudah mencapai pada titik puncak, seperti yang terdapat dalam kutipan berikut:
“Begini, Pak,” tamu yang cantik itu melanjutkan, “kami adalah mahasiswa kedokteran,. Sudah dua minggu kami ikut praktik di rumah sakit bagian bedah. Kami juga ingin mengadakan penelitian lebih lanjut. Tapi, Pak, eee… bahan yang akan kami teliti tadi apa tertinggal di bemo Bapak?”
Aku agak gugup. Bagaimana harus menjawabnya.
“Eee… tidak,” aku menggeleng-geleng.
“Maaf, Pak. Barangnya tidak berharga. Tapi itu sangat kami perlukan. Kami telah mengumpulkannya selama dua minggu. Ada dalam tas plastik warna putih.”
“Apa barangnya itu?” aku pura-pura bertanya.
“Begini, Pak. Banyak orang menderita penyakit dalam tubuhnya. Ada yang di bawah kulit, di otak, kandungan, rahim, payudara, usus, dan lainnya. Kami ingin meneliti penyakit itu”
“Ya ya… terus?”
“Nah, hasil operasi dari semua operasi tadi apa tertinggal di bemo Bapak?”
“Eee…,” aku terdiam beberapa lama. “Eee… daging…?”
“Bukan daging, Pak. Itu adalah tumor yang telah kami ambil.”
“Tu…tumor…?” aku meremas mulut.
“Ya, Pak, yang mirip daging dalam tas plastik putih itu adalah tumor.” (Anwar, 2017:105)

d. Tahap peleraian
Pada tahap peleraian masalah yang dialami sudah mulai menemukan solusi atau sudah tidak pada puncak ketegangan dan mulai mendapat jalan keluar. Seperti yang terdapat pada kutipan cerpen di bawah ini:
“Huuuek!” isi perutku pun menyembul keluar. Tumpah dan meluber ke lantai.
“Huuuek!” istriku kembali muntah, lalu disusul lagi oleh anak-anak.
“Haaaiiik!”
“Kreezzz!”
“Khrruuuek!”
Kami sekeluarga muntah bersamaan. Rasanya tak bisa berhenti. Semua isi perut memberontak keluar… (Anwar, 2017:106)

5. Latar
a.       Tempat :
1)      Jalan Dekat Stasiun
“Bemo yang aku kemudikan akhirnya sampai di dekat stasiun. Satu-satunya penumpang itu turun juga dan berjalan minggir ke tempat yang teduh” (Anwar, 2017: 99)
2)      Meja makan
“Hari ini suasananya seperti orang kaya. Kami makan bersama-sama di meja makan. Nasi hangat, gulai hangat, sate, dan empal tertata rapi” (Anwar, 2017: 103)
3)      Kamar mandi
“cairan warna kuning kecoklatan itu melebur di meja dan berceceran ke lantai. Kepalaku terasa pening. Terlihat neti jongkok di dekat kamar mandi” (Anwar, 2017: 106)
4)      Pangkalan bemo
“ada orang yang mencari barangnya yang ketinggalan di bemo?, tanyaku pada teman-teman sopir di pangkalan” (Anwar, 2017: 100)
5)      Ruang tamu
“… tiba-tiba ada suara orang di pintu depan. Sepertinya tamu. Aku berdiri dan menengok dari pintu tengah. Ternyata ada tamu beneran. Cepat-cepat aku mengusap mulut sambil mempercepat kunyahan di mulut. “ Mari masuk, mbak” aku mempersilahkan sang tamu.” (Anwar 2017: 104)

b.      Waktu :
1)      Pukul 10.00 pagi
“pukul sepuluh, bagi pengemudi bemo atau mikrolet adalah jam mati” (Anwar, 2017:97)
2)      Siang hari
“Tambah siang udara makin panas dan berdebu” (Anwar, 2017: 98)
“aku tetap mempertahankan daging itu. Tapi, hingga pukul satu siang, belum juga ada yang menanyakan” (Anwar, 2017: 100)
3)      Sore hari
“sore itu tidak seperti biasanya, kami makan lebih awal” (Anwar, 2017: 103)
c.       Suasana :
1)      Tegang
“Aku agak gugup. Bagaimana harus menjawabnya”
“Maaf , pak. Barangnya tidak berharga. Tapi itu sangat kami perlukan. Kami telah mengumpulkannya selama dua minggu. Ada dalam tas plastic warna putih” (Anwar, 2017: 105)
2)      Gembira
“… Wajahnya tampak berbinar-binar. Maklum, kami sangat jarang makan daging karena mahal…” (Anwar, 2017: 101)
“mereka tampak gembira dengan daging itu…” (Anwar, 2017: 101)
3)      Sepi
“Jalanan sudah mulai agak sepi, kemacetan juga telah terurai” (Anwar, 2017: 97)

6.      Sudut pandang
Sudut pandang dalam cerpen ini adalah sudut pandang orang pertama yakni “aku” sebagai tokoh utama.

7.      Gaya bahasa
Dalam cerpen ini terdapat gaya bahasa sehari-hari yang mudah difahami. Dan juga didalamnya terdapat majas personifikasi. Seperti yang terdapat pada kutipan dibawah ini:
“mereka menuding-nuding, jarinya meloncat-loncat secara bergantian” (Anwar,2017 :103)

8.      Amanat
1)      Dalam melakukan sebuah tindakan sebelumnya haruslah diteliti dan diperhatikan terlebih dahulu.
2)      Jika kita menemukan sesuatu yang bukan milik kita, sebaiknya kita menyimpan dan menjaganya terlebih dahulu.




DAFTAR PUSTAKA


Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan:
Pustaka Ilalang.
Sugeng. 2016. ”Unsur Intrinsik”. dalamhttp://www.pelajaranku.net/2016/05/8-Unsur-Intrinsik-Cerpen-dan-Penjabaran-Lengkap.html (diakses pada tanggal 16 Maret 2017)


M.2 Teks Laporan Hasil Observasi

Teks 1: Kunang-Kunang Kunang-kunang merupakan jenis serangga yang dapat mengeluarkan cahaya yang jelas terlihat saat malam hari. Cahaya in...